Saya berkepribadian melankolis.
As we know, melankolis (saya) terpaku pada detil, rencana-rencana, sulit memulai (tapi kalo udah mulai ngga bisa berhenti), sensitif. Saya suka mencatat apa aja yang harus saya lakukan hari ini dalam buku catatan atau hp. Saya ngga suka kalau jadwal saya ngga berjalan sesuai rencana. Seharian saya bisa bad mood atau semacamnya.
Jeleknya, saya terlalu sensitif dan sering berpikiran negatif. Saya pernah nulis status di Facebook, "positif positif 20x" eeh, malah disangka hamil. Dodol. Padahal kan itu maksudnya saya memantrai diri saya sendiri biar lebih bisa mikir positif. Hahaha..
Well, cukup untuk melankolis.
Koleris, atau choleric. Kepribadian pemimpin. Tukang maksa, apa-apa harus sesuai maunya. Bossy. Tapi emang sih, orang-orang koleris cocok diandalkan dalam setiap situasi. Mereka tau apa yang harus dilakukan, meski dalam keadaan yang paling sulit sekalipun. They're such a problem solver. Kadang orang koleris kaku. Mereka suka bercanda sih, tapi kadang suka garing atau norak. Hehehe.. No offense loh yaaa... :)
Ada beberapa orang terdekat saya yang berkepribadian koleris, salah satunya ayah saya. Yah begitulah. Omongan beliau adalah undang-undang, ngga boleh salah dan harus dikerjakan. Tapi teteeep, hatinya seputih salju. I love you, Pap! :**
Saya juga pernah punya hubungan dengan orang koleris (baca: mantan). Dia teramat sangat bersemangat dan terus-terusan ngejar apa yang dia mau, sampai dapat. Kalau belum dapat, coba lagi, coba lagi, coba lagi. Dia selalu berpikir dia yang paling benar, walaupun kadang beberapa pemikirannya kaku dan (menurut saya) salah. Dikasih tau susah. (lho, lho.. ini kenapa jadi curhat ya. hahaha..)
Dibalik semua itu, sebetulnya mereka (si koleris) baik hati kalau kita tau cara menghadapi mereka. Dan ada satu hal yang paling saya suka. Mereka bisa diandalkan. Mereka bisa jadi a shoulder to cry on. Seperti yang sekarang ini saya alami. Saya sedang berjuang untuk skripsi saya. Saya butuh penyemangat. Dan alhamdulillah, adaaaa aja orang koleris di sekitar saya. Saya memang butuh cambuk. Saya butuh kata-kata pedas, saya butuh digampar (kalau perlu), karena memang saya terlalu manja. Saya tahu kelemahan saya, dan itu harus diatasi oleh orang koleris, bukan sanguinis apalagi plegmatis.
Terima kasih banyak ya, koleris! :)


0 comment(s):
Post a Comment