Showing posts with label adab. Show all posts
Showing posts with label adab. Show all posts

Wednesday, November 16, 2016

Belajar Bagaimana Cara Belajar


“It is better to KNOW HOW TO LEARN than to know” –dr. Seuss


Oleh-oleh PR minggu ini dari kelas Matrikulasi IIP adalah ‘PRAKTIK’. :D Kali ini, praktiknya adalah membuat Desain Pembelajaran. Saya akan memulainya dengan sedikit menoleh ke belakang saat saya bersekolah formal bertahun-tahun yang lalu, mencoba menjawab pertanyaan ‘bagaimana sih cara saya agar nyaman dalam belajar?’.

Saya tipikal yang suka berpendapat, dan selalu berbinar jika disuruh menjawab pertanyaan ‘jelaskan menurut anda’, tapi tidak secara verbal. Saya lebih suka mengemukakan pendapat saya lewat tulisan. Rasanya lebih bebas dan menenangkan. Saya ingat, waktu SD, saya tidak mengerti dengan penjelasan guru di kelas saat pelajaran Sejarah. Saat ujian tiba, saya mencari cara belajar yang pas agar saya tetap dapat menguasai materi. Cara yang saya lakukan adalah membaca 2-3 kali materinya, kemudian saya menuliskannya kembali. Ternyata cara itu cukup efektif bagi saya. Selain itu, saya suka belajar sendirian, dalam kondisi yang tenang, dalam satu waktu (semakin momennya tidak terinterupsi, proses belajar akan semakin efektif). Dan lantunan musik favorit selalu menjadi teman saya saat belajar.

Melihat kembali misi saya di NHW4, dalam mewujudkannya saya telah menuliskan beberapa ilmu pendukung yang saya pikir penting untuk dipelajari. Sejauh ini yang ada dalam bayangan saya dan sudah saya lakukan adalah mempelajari ilmu-ilmu pendukung tersebut lewat buku, artikel, dan pengalaman orang lain yang sudah ahli atau yang sudah lebih dahulu mengalaminya. Satu hal yang sudah terpikirkan namun belum saya lakukan adalah mencari guru ahli yang dapat mendampingi perjalanan saya mewujudkan misi.

Selama ini, saya terbiasa mempelajari teori dengan hanya sedikit sekali praktik. Ternyata itu bisa dikatakan sebagai kekurangan saya. Kehidupan nyata/real life yang saya alami sekarang (terutama pasca menikah) menuntut saya berhadapan dengan segala macam praktik kehidupan beserta permasalahannya, dengan segala peluang dan risikonya. Sejujurnya, di waktu awal pernikahan dan berhadapan dengan real life, saya sempat merasa shock. Bahkan hingga saat ini, saya masih sering shock, walaupun sudah lebih jarang dibanding dulu. Bagaimana tidak, saya yang dahulu selalu memanjakan diri hanya dengan belajar teori dan tidak terbiasa berpraktik, tiba-tiba dituntut oleh kehidupan nyata untuk berpraktik, tentu dengan resiko yang langsung terasa dampaknya.

Saya adalah orang yang agak mudah terpengaruh dan saya rasa ini perlu sedikit diubah. Jika ada sesuatu yang bertentangan dengan prinsip atau pemikiran saya, secara naluriah saya akan mencoba menerimanya dan memahaminya, dan secara tidak sadar malah kadang jadi mempengaruhi pemikiran atau prinsip saya sebelumnya. Seringkali pada akhirnya saya memerlukan waktu lebih untuk berpikir kembali tentang keputusan yang sudah saya buat, bahkan kembali untuk memperbaiki step sebelumnya jika dirasa perlu. Bagi saya, hal ini dapat menjadi kekuatan sekaligus kelemahan saya, namun bagaimanapun, saya merasa harus punya kekuatan lebih untuk mempertahankan prinsip, dan itu merupakan salah satu PR untuk saya.

Satu hal yang saya rasa sangat penting dalam menentukan desain pembelajaran ini, yaitu dengan tetap memperhatikan adab menuntut ilmu selama proses saya belajar. Kembali pada NHW1, terutama ada 3 sikap yang perlu saya garis bawahi, yaitu (1) menghilangkan insanity (doing the same thing over and over again, and expecting different result –A. Einstein), yang erat kaitannya dengan comfort zone, (2) berusaha keras menghidari FOMO (fear of missing out) dan tegas mengatakan interesting, but I’m not interested, (3) menghindari sikap merasa lebih paham saat ilmu sedang diajarkan. Ya, saya sedang berusaha lebih baik lagi dalam ketiga hal tersebut.

Berikut adalah rumusan Desain Pembelajaran yang telah saya paparkan di atas.





”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr 1-3)

Bismillahirrahmanirrahim, semoga saya bisa konsisten mengaplikasikan desain pembelajaran ini dan semoga suatu saat hal ini layak dicontoh oleh anak dan cucu saya.

Wednesday, October 19, 2016

Ilmu Dalam Menjalani Peran

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Jika disuruh menentukan satu jurusan ilmu yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan ini, tentu saja saya akan sangat kebingungan. Mengingat terlalu banyaknya hal yg dirasa perlu dibenahi dan dipelajari dalam menjalani kehidupan. Belum lagi, saya pun tentu ingin menuliskan passion saya juga di dalamnya.

Ya, terlalu banyak. Maka pada akhirnya, saya memutuskan untuk merangkumnya dalam satu kalimat: "ilmu untuk menjalani berbagai peran yang saya jalani di muka bumi ini dengan sebaik-baiknya".

4 peran saya yg paling utama: Yang pertama, tentu sebagai hamba Allah SWT. :) Kedua, sebagai seorang ibu dan seorang istri. Saat ini saya adalah ibu dari 2 anak (3 thn dan 1 thn), dan insyaAllah tahun depan akan menjadi ibu dari 3 anak. :) Kemudian, saya juga menjalani peran sebagai anak dan menantu (alhamdulillah ibu saya dan kedua mertua saya saat ini masih dlm keadaan sehat, sedangkan ayah saya sudah mendahului kami di tahun 2015 silam). Selanjutnya, peran saya saat ini adalah pemilik usaha jualan online pakaian dan perlengkapan anak.

Alasan terkuat saya ingin menekuni ilmu tersebut, yaitu karena sebagai manusia, saya merasa perlu terus memperbaiki dan meng-upgrade kualitas pribadi saya dalam menjalani peran-peran tersebut. Sebagai hamba Allah, saya merasa bekal saya di dunia ini masih teramat sangat sedikit sekali, sedangkan saya sendiri tau bahwa kematian dapat menghampiri kapan saja. Terkait peran lainnya, saya merasa perlu mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada diri saya, bahkan jika memungkinkan saya ingin sekali memiliki kemampuan untuk mentransformasi kelemahan-kelemahan tersebut menjadi kekuatan diri yang nantinya bisa saya manfaatkan. Disamping itu, saya ingin sekali "klien" saya (dalam hal ini: suami, anak-anak, ibu dan mertua, serta pembeli saya) merasa puas dan merasakan sebaik-baiknya presensi saya disaat mereka memerlukannya.

Saat ini, strategi menuntut ilmu yang saya rencanakan terkait ilmu 'menjalani peran' tersebut diatas adalah sebagai berikut:

1. Sebagai hamba Allah
Memilih lingkungan pergaulan yang baik, mengikuti kajian/pengajian/pendidikan informal terkait dalam hal meng-upgrade ilmu agama, berusaha mencari hidayahNya di setiap kesempatan.

2. Sebagai istri dan ibu
Mengikuti komunitas IBU PROFESIONAL, membaca lebih banyak buku tentang parenting dan keluarga, mengikuti seminar/kajian/pengajian yang memiliki kegiatan menggali ayat-ayat suci Al Quran dan hadist, yang khusus membahas tentang bagaimanakah cara menjadi istri dan ibu sholihah.

3. Sebagai anak dan menantu
Membaca buku terkait, membaca dan memahami dan mengulang kembali ayat-ayat Al Quran dan hadist terkait, berusaha memposisikan saya sebagai orang tua disaat saya memperlakukan orang tua (terkait bagaimanakah saya ingin diperlakukan oleh anak-anak saya nanti ketika saya sudah berusia lanjut).

4. Sebagai pemilik usaha
Membaca buku seputar teknik penjualan, mengikuti komunitas berjualan online, mengamati, memahami, dan mempraktikkan dengan modifikasi tertentu strategi-strategi penjualan online dari para online seller yang sudah lebih dulu sukses, bergaul dengan orang-orang yang lebih dulu sukses, membaca buku biografi orang-orang yang lebih dulu sukses dan mengadaptasi kiat-kiat suksesnya, mengikuti kelas/seminar motivasi.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu,
sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu
tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa
yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya. Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmuitu sendiri.

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap yang perlu saya lakukan dalam proses mencari ilmu tersebut adalah:
1. Konsisten meluruskan niat dalam menuntut ilmu.
2. Bergegas, mengutamakan waktu menuntut ilmu, tidak menunda-nunda.
3. Berusaha selalu menumbuhkan sikap 'haus ilmu' dan menghindari sikap yang 'merasa sudah lebih tahu' dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
4. Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajari dengan cara mengulang-ulang,
membuat catatan penting, dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
5. Tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan kecuali jika diberi kesempatan oleh guru tsb, tidak
memotong pembicaraan guru dan tidak berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara, serta penuh perhatian terhadap penjelasan atau perintah yang diberikan guru.
6. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

Demikian tulisan ini saya buat sebagai pengikat ilmu yang ingin saya amalkan, sekaligus sebagai salah satu alat pelurus niat dan pengingat kembali jika suatu saat nanti niat saya dalam mengamalkan ilmu teralihkan.

Salam,
Tia Yulantami
yulantami@gmail.com