Sunday, November 13, 2016

Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah


Tulisan saya kali ini adalah untuk memenuhi Nice HomeWork #4 kelas Matrikulasi IIP yang berjudul Mendidik Dengan Kekuatan Fitrah. Selama mengerjakan NHW#4 ini, saya banyak merenungi perjalanan hidup saya. Setelah bermuhasabah dalam, akhirnya saya mendapati bahwa saya mencapai titik kehidupan yang sekarang, karena saya sudah melewati kehidupan lalu saya. Dari hasil muhasabah pula, saya mendapati bahwa saya sangat mensyukuri kegidupan saya yang sekarang, dan mensyukuri segala sesuatu yang pernah saya lewati sebelumnya. Saya juga mensyukuri segala hal yang saat ini saya punya, juga segala hal yang saat ini saya tidak punya. Sensasi perasaan bersyukur yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. :)

Kembali ke inti dari NHW#4 ini, berikut merupakan hasil pemikiran saya.

a. Apakah jurusan ilmu yang dipilih di NHW#1 tetap jadi prioritas yang ingin ditekuni di Universitas Kehidupan?

Setelah berulang kali membaca kembali NHW#1 demi menuliskan jawaban poin a ini, saya memutuskan bahwa “ilmu menjalani berbagai peran dengan sebaik-baiknya” sebagai jawaban NHW#1 saya akan tetap menjadi prioritas ilmu yang ingin saya tekuni. Namun untuk mendalaminya ternyata tidak mudah, karena ilmu tersebut terlalu general dan memiliki banyak cabang dan ranting dibawahnya, dan pastinya butuh waktu yang tidak sebentar untuk mempelajarinya. Untuk itu, saya kemudian membaginya menjadi beberapa ilmu yang lebih spesifik, yang akan saya jelaskan pada poin d di bawah.

Mengenai alasan kuat yang mendasari saya memilih ilmu-ilmu tersebut, strategi menuntut ilmu, serta perubahan sikap yang perlu dilakukan, telah saya tuliskan pula sebagai revisi NHW#1 dan akan saya submit malalui email/blog jika diperlukan/diwajibkan.


b. Sudahkan konsisten mengisi checklist pada NHW#2?

Alhamdulillah sudah, dengan berbagai revisi dan tambahan checklist yang telah saya buat (akan disubmit jika diperlukan).

c. Merenungkan kembali kembali NHW#3, apakah sudah terbayang tujuan Allah menciptakan saya di muka bumi?

Berhari-hari saya berusaha menjawab pertanyaan ini. Sebenarnya masalahnya bukanlah karena tiadanya tujuan hidup, tetapi saya belum pernah pernah mengkonsepkan dan menuliskan tujuan saya dengan jelas. Saya punya banyak keinginan dan cita-cita, namun itu semua tanpa setting skala prioritas yang jelas, sehingga saya bingung apa tujuan saya yang sebenarnya. Alhamdulillah, setelah saya mengikuti kelas Matrikulasi IIP ini, saya menjadi sadar penuh bahwa saya tidak bisa menggapai tujuan hidup hanya dengan mengandalkan aliran kehidupan saja. Bahwa cita-cita dan goals yang saya targetkan saya harus dituliskan dengan jelas, sehingga saya mengetahui saya kapan harus melakukan apa. Alhamdulillah sekali lagi, Allah mempertemukan saya dalam kelas hebat ini. :)  

Setelah saya membaca kembali NHW#3, saya merasa perlu melakukan sedikit revisi, yaitu bagian kekuatan potensi saya. Revisi tersebut sudah saya tuliskan kembali, dan jika diperlukan akan saya submit ke tim fasilitator.

Sesuai petunjuk, NHW#3 menjadi guideline saya dalam menentukan misi hidup. Namun tentu saja tidak sesederhana itu. Untuk menentukan misi hidup, saya perlu melakukan muhasabah diri selama beberapa hari, plus berdiskusi mendalam dengan suami. Alhamdulillah, pada akhirnya saya memutuskan untuk membagi misi hidup saya menjadi 2, yaitu (1) mendampingi dan membersamai suami dalam meraih mimpi kami berdua, (2) mendampingi anak-anak seumur hidup saya dalam mencapai kesuksesan mereka, dengan saya berperan sebagai eksekutor, supporter dan motivator.

d. Ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut?

Berdasarkan misi yang telah saya tetapkan, maka ilmu yang diperlukan sebagai alat pendukung peran saya adalah:
1.     Ilmu ilmu seputar pengasuhan anak, manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga.
2.     Ilmu motivasi dan pengendalian diri.
3.     Ilmu terkait enterpreneurship (marketing, manajerial, dan leadership).

e. Koreksi kembali checklist Anda di NHW#2, apakah sudah memasukkan waktu mempelajari ilmu di atas?

Sesuai jawaban saya dalam poin b, saya telah melakukan revisi checklist, dan alhamdulillah di dalamnya sudah termasuk waktu yang saya sediakan untuk mempelajari ilmu-ilmu diatas.

f. Milestone

Saya sadar sepenuhnya sangat susah untuk membuat milestone saat memiliki anak yang masih kecil. Tetapi, mengutip kata-kata bijak suami saya: susah bukan berarti mustahil dilakukan. Ya, mau atau tidak mau, susah ataupun mudah, sebagai guideline saya merasa tetap membutuhkan milestone sebagai acuan.

KM 0 (2016)

2016 merupakan tahun titik balik kehidupan saya dalam hal finansial, dengan acuan mencontoh salah satu kehidupan Rasulullah SAW terdahulu, yaitu berdagang. Sebenarnya saya sudah sering berdagang sejak SMA. Namun itu dilakukan tanpa beban apapun, nothing to lose, tanpa target dan ilmu yang jelas. Singkat cerita, di Februari 2016 saya (dengan dukungan penuh dari suami) memutuskan untuk mulai bisnis dengan serius.

Bisnis yang kami lakukan bukanlah bisnis besar, modalnya pun hanya bersumber dari tabungan kami yang terbatas. Namun kami percaya, sesuatu yang besar dan kokoh pasti dimulai dari sesuatu yang kecil terlebih dahulu.

Lalu, apa yang akan saya lakukan sekarang, di sisa tahun 2016?

Di beberapa minggu terakhir tahun ini, saya akan memantapkan kembali milestone saya dengan beberapa catatan dan rincian tertentu, serta saya akan membuat target-target bisnis yang ingin saya dan suami capai beserta waktunya. Saya juga akan membuat milestone terkait target yang ingin dicapai seputar pengasuhan anak kami.

KM 1 (2017-2019)

Merupakan rentang waktu yang ditetapkan untuk menguasai:
·      Ilmu seputar pengasuhan anak, manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga.
·      Ilmu motivasi dan pengendalian diri.
·      Ilmu terkait enterpreneurship (dipelajari setelah 2 prioritas ilmu di atas dinilai cukup terpenuhi).

KM 2 (2020-2022)

Saya mematok tahun 2020 karena di tahun tersebut anak bungsu saya insyaAllah berumur 3 tahun dan diharapkan sudah lebih mandiri. Di KM 2 merupakan rentang waktu bagi saya agar harus sudah menguasai:
·      Ilmu motivasi dan pengendalian diri sebagai lanjutan pembelajaran ilmu di KM 1.
·      Ilmu marketing.
·      Ilmu manajerial dan leadership.
·      Ilmu seputar pengasuhan anak, manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga (sebagai pemantapan ilmu yang telah dipelajari sebelumnya).

KM 3 (2023)

·      InsyaAllah anak-anak saya sudah berusia 10, 8, dan 6 tahun. Di tahun ini, saya menargetkan kami (saya dan suami) minimal sudah berhasil menanamkan pendidikan dasar akhlak yang baik bagi anak-anak kami sesuai dengan fitrahnya.
·      Telah mencapai mimpi terkait hal finansial yang telah dibuat dan dirancang oleh suami dan saya.
·      Mengevaluasi kembali target-target kehidupan yang telah dibuat, melakukan revisi yang dianggap perlu.
·      Membuat kembali target-target dalam kehidupan, menyusun kembali milestone sebagai acuan pencapaian target selanjutnya.

f. Lakukan, lakukan, lakukan!! J

Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, dengan memohon ridho Allah agar selalu menunjukkan kami jalan yang lurus, dengan senantiasa memohon agar Allah selalu memberikan hidayah bagi saya dan keluarga, dengan memohon ridho orang tua, saya akan menyelesaikan KM 0 saya di tahun 2016 ini, dilanjutkan dengan menjalani KM selanjutnya sesuai waktu yang sudah direncanakan.

Sunday, November 6, 2016

Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Peradaban

Peradaban sangat erat kaitannya dengan kebudayaan dan kecerdasan di setiap tahapan lingkungan. Saya setuju bahwa peradaban yang baik dibangun mulai dari dalam rumah. Untuk itu, perlu adanya sinkronisasi visi dan misi antara suami dan istri terlebih dahulu.

My Beloved Husband

Sudah beberapa bulan terakhir saya tidak merasakan jatuh cinta kembali kepada suami. Padahal, biasanya saat suami "hanya" membawakan cakwe sepulang kantor sekalipun, rasanya saya selalu berbunga-bunga. Beda dengan akhir-akhir ini, sekalipun suami pulang bawa pizza, saya biasa-biasa saja 🙈 (ini analoginya ketauan bgt ya kalo saya mudah dibahagiakan dengan makanan). Maka, disaat ada yang menuntun saya untuk membuat surat cinta untuk suami, saya merasa sangat excited. Segera, dengan segenap hati saya menuliskan surat itu, menuangkan semua kebaikan suami, mengingat-ingat apa saja potensi yang ada dalam dirinya yang membuat saya memutuskan dirinya sebagai pendamping hidup, serta kejadian apa saja yang sudah kami alami bersama. Suratnya sudah tentu hanya akan menjadi konsumsi suami saya tercinta. Namun saya akan membagi respon dari suami saya disini 😊

Saya mengirimkan surat tersebut via media elektronik. Sempat dibaca olehnya, namun suami saya tidak langsung membalasnya. Setelah saya tagih, kemudian beliau memberikan respon. Begini katanya: 😍😆

"With that ring, I gave you my heart. I promised from that day forward, you would never walk alone. My heart would be your shelter, and my arms would be your home."

"A happy marriage is about 3 things: memories of togetherness, forgiveness of mistakes, and a promise to never give up on each other. Even I dont say it, I always meant it."

Huwaaaa.... kemudian saya cireumbay alias berurai air mata. Esoknya? Kami lebih mesra dong pastinya.. 😳

Tentang Buah Hati Kami

Alhamdulillah saat ini saya telah dikaruniai 2 orang anak yang hebat. Fathir (3 thn) dan Sasya (1 thn). Keduanya adalah sosok anak yang ceria, aktif, menyenangkan, dan menggembirakan. 😇

Fathir
Terlahir sebagai anak pertama, laki-laki, kesayangan kedua kakek dan neneknya. Di usianya yang masih balita, Fathir sudah sangat pandai berbicara dan bercerita. Beberapa teman saya menyebutnya sebagai calon orator. Hehehe... selain itu, Fathir adalah anak yang baik hati, suka berbagi, juga mudah memaafkan. Fathir, bocah lucu yang suka ngoceh kocak. Adaaaaa saja celotehnya setiap hari yang membuat mamanya tertawa, rasanya ocehannya yang kocak itu bagai oase ditengah-tengah rutinitas saya yang kadang menjemukan. Di sisi lain, Fathir sangat mudah menghafal jalan. Dia hafal "Mah, ini tempat cuci mobil ya", atau "Mah, itu jalan ke rumah tante X ya..", atau "Mah, jangan lewat situ, jalanannya jelek mah". 😊 Alhamdulillah, Allah telah menitipkan anak yang luar biasa ini kepada saya. Doa mama selalu buat kamu ya, mas Fathir...

Sasya
Si imut yang lembut dan cerdas. Sasya pernah mengalami masalah, berat badannya sempat stuck, tidak naik selama beberapa bulan. Tidak jarang saya terima komentar "Wah, 1 thn kok kurus ya", atau "Hah, kecil amat, padahal udah 1 thn ya". Hehehe... saya senyum saja 😊 karena alhamdulillah hasil konsul DSA, berat badannya masih on track, dan saya juga tau, di sisi lain, anak saya adalah anak yang hebat. Saya sering dibuat kagum dengan perkembangannya. Sebelum usia 1 thn, Sasya sudah pintar mengacungkan telunjuknya, berjoget, tepuk tangan, melambaikan tangan, dll. Daya tangkapnya luar biasa, membuat saya harus selalu waspada dengan perilaku saya (kalau yang aneh-aneh, takutnya ditiru. Hehehe). Alhamdulillah, segala puji bagiNya yang telah menghadirkan Sasya ditengah keluarga kami.

Tentang Saya

Salah satu potensi dalam diri saya, bahkan sejak saya kecil, yaitu selalu suka sama ruangan yang rapi, alias suka beberes. Hehehe... dengan beberes, rumah jadi nyaman. Dengan beberes, beban hidup rasanya hilang. Dengan beberes, hati jadi riang. Dengan beberes, suami pun senang. 😁😁😁 begitulah, Allah menakdirkan saya berjodoh dengan suami saya, yang hmmmm... pokoknya intinya dia ga suka beberes deh. Hari pertama saya diajak ke kontrakan rumah kami pasca menikah, OMG, wuacak wuacakaaaaan 😭😭 butuh 2 minggu bagi saya buat menata kontrakan kami itu menjadi rumah yang homey. Alhamdulillah setelah tau saya suka beberes, suami makin cinta. Klop deh kita. Yang satu ga suka beberes, yg satu hobi beberes. 😄 setelah saya punya anak, saya pun berusaha menularkan dan mengajarkan kebiasaan beberes itu kepada anak-anak saya. Butuh effort memang mangajarkan beberes pada anak balita. Hehehe... (if you know what I mean). Tapi saya yakin, hasilnya akan terlihat setelah mereka dewasa nanti.

Potensi lain dari diri saya terkait rumah tangga kami, yaitu rumah yang selalu ceria. Saya suka bercanda dengan suami saya. Kadang kami membutuhkan candaan (yg tepat) untuk membuat pikiran kami tetap jernih saat menghadapi beberapa situasi sulit. Suami saya dulunya seringkali tidak kepikiran untuk menyelipakan candaan di sela-sela keseharian kami. Sejak menikah, saya pun mulai "membiasakan"nya. Alhamdulillah, dengan demikian, stress lebih bisa dihindari. 😁

Potensi diri saya yang lain, adalah kesuksesan secara finansial (aamiin). Saya sengaja menuliskan ini sebagai cambuk bagi saya untuk terus mengembangkan bisnis kecil-kecilan saya. Harapannya nanti bisnis ini akan membawa manfaat bagi keluarga kami khususnya, dan bagi ummat secara umum. Alhamdulillah saya mendapat dukungan 100% dari suami. Perlahan tapi pasti, dengan tetap menghandle dan tidak mengesampingkan kebutuhan anak dan keluarga, saya berharap cita-cita ini dapat konsisten dijalankan dan berpotensi untuk terwujud.

Selain hal-hal di atas, kekuatan potensi saya yang lain terkait rumah tangga kami adalah InsyaAllah akan bisa menciptakan kondisi rumah tangga yang bahagia dan damai. Hal ini sejalan dengan komitmen saya dan suami (dan nantinya akan kami tanamkan pula pada anak-anak kami), yaitu "jika tidak membawa kebaikan, keberkahan, dan kebahagiaan bagi keluarga, maka tinggalkan". Semoga kami selalu bisa konsisten menjalaninya.

Tantangan Di Lingkungan

Saya tinggal di sebuah komplek yang bisa dibilang cukup rapat. Media sosial tradisional kami diantaranya adalah saat berbelanja di tukang sayur dan arisan RT. Tantangan yang saya rasakan saat ini adalah:
- adanya ketidaksepahaman antara saya dan beberapa tetangga terkait cara mendidik anak.
- ghibah yang tidak terhindarkan saat berinteraksi dalam media sosial tradisional yang saya sebut di atas.
- sulitnya membendung rasa terlalu ingin tau urusan orang lain di kalangan para tetangga.
- tidak adanya komunitas keagamaan (misal pengajian) di lingkungan tempat tinggal saya.

Mungkin, maksud Allah menghadirkan saya di lingkungan seperti ini adalah agar saya dapat lebih kuat, tegar, dan konsisten menjaga keluarga saya dari pengaruh negatif lingkungan tersebut di atas. Pada akhirnya, saya mencari keluar lingkungan tempat tinggal saya, beberapa komunitas produktif yang saya butuhkan. Alhamdulillah, setelah mengikuti beberapa komunitas tersebut, saya merasa hidup saya lebih baik, bermanfaat, dan bermakna.

Penutup

Saya yakin, keluarga kecil kami suatu saat nanti akan mendapat tempat yang baik di hati masyarakat dan insyaAllah akan berkontribusi baik dalam membangun peradaban lingkungan. Saat ini yang perlu saya dan suami butuhkan adalah memanfaatkan potensi-potensi baik dan menuangkannya ke dalam cita-cita mulia kami, yang harapannya nanti dapat diwujudkan dalam jangka waktu yang kami inginkan. Semoga Allah selalu bersama kami di setiap langkah, senantiasa memberi kami hidayah dan bimbingan. Aamiin...

Sunday, October 30, 2016

Indikator Profesionalisme Perempuan

Bagi klien saya dan saya sendiri, profesionalnya seorang perempuan itu terbagi kedalam 6 nilai utama (values) yaitu:
Sholihah,
Pengasih dan Penyayang (Affectionate),
Pengertian (Understanding),
Cerdik (Smart),
Tangguh (Tough),
Menyenangkan (Fun)

Selanjutnya dari 5 nilai utama itu dijabarkan kedalam perilaku-perilaku berikut:

1. Values Sholihah - menjadi pribadi yg rajin beribadah sesuai tuntunan Rasulullah saw.
- membaca dan memahami minimal 1 hadist dalam 1 minggu.
- membaca dan memahami untuk dipraktikkan teladan Rasul dan istri-istrinya minimal 1 kisah dalam 2 minggu.

2. Values Sholihah - menjadi pribadi yg Taat dan Hormat kepada Suami. Saat ini yg ingin saya capai adalah:
- mencatat dan mengerjakan semua tugas yang diberikan suami, menatanya ke dalam to do list setiap kali suami meminta saya melakukan sesuatu, mengingat saya adalah orang yang sangat pelupa.
- menjadwalkan ngobrol mesra 1x dalam 1 hari dengan durasi min 30 menit.
- menyiapkan keperluan suami setiap kali beliau mau berangkat kerja.

3. Values Affectionate - tidak berkata kasar dan menyakiti perasaan suami dan anak2, serta tidak melakukan tindakan kekerasan yg tidak sesuai syariat.
- menahan emosi negatif setiap kali ada selisih paham/pendapat dengan suami/anak, kemudian beristighfar, menenangkan diri, dan kemudian mengalihkan emosi negatif tersebut dalam bentuk kata-kata yg lebih bijak dan santun.

4. Values Pengertian (Understanding) - Selalu memberikan dukungan, semangat dan motivasi dengan bijaksana kepada suami dan anak2 dalam keadaan sulit ataupun mudah, senang ataupun sedih.
- membaca buku atau artikel motivasi minimal 3x dalam 1 bulan agar lebih bisa berkata-kata lebih baik dan persuasif kepada anak dan suami.
- melakukan olah raga rutin 1x seminggu agar pikiran dan badan lebih fresh.

5. Values Pengertian (Understanding) - Mampu menjadi pribadi yg dewasa serta tempat berkeluh kesah (curhat) dan menjadi pendengar yg baik bagi suami dan anak2.
- membaca Al Quran minimal 1 hari 1 lembar.
- menyediakan waktu luang, setiap malam pk.20.00 untuk menjadi pendengar keluh kesah suami dan anak.

6. Values Cerdik (Smart) - mampu
mendidik, mengajari, menumbuhkan dan mengembangkan anak2 menjadi pribadi yg sholih/sholihah, pandai, cerdik, kreatif, visioner dan tangguh.
- meluangkan waktu minimal 3 jam/hari untuk mengajarkan anak kerterampilan baru.

7. Values Tangguh (Tough) - Tidak mudah menyerah saat menghadapi masalah pribadi, maupun masalah keluarga.
- berdzikir setiap kali merasakan kemalangan dan masalah, menenangkan diri, dan percaya Allah akan menyediakan jalan keluar dalam setiap permasalahan.

8. Values Tangguh (Tough) - Bersedia berjuang bersama suami untuk menjadikan kehidupan keluarga menjadi lebih baik, lebih berkah, lebih bahagia dan sejahtera dunia dan akhirat.
- menentukan jam kerja profesional sebagai agen baju anak, yaitu jam 5.30-6, 11-14, 15-16 setiap harinya.
- membuat target mingguan dan bulanan penjualan toko online.

9. Values Menyenangkan (Fun) -
Menjadi pribadi yg ceria, riang, ramah, tidak sinis, tidak murung dalam kehidupan sehari2.
- membuat progam hari "penuh senyum, tanpa marah", setiap hari Senin, Kamis, Minggu sebagai latihan kontrol diri. :)

10. Values Menyenangkan (Fun) - menjadi pribadi yg menyenangkan dan menyejukkan secara jasmani dengan melakukan perawatan yg teratur dan sesuai.
- melakukan perawatan badan di rumah/salon tiap 1x dalam sebulan.

Wednesday, October 19, 2016

Ilmu Dalam Menjalani Peran

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Jika disuruh menentukan satu jurusan ilmu yang ingin saya tekuni di universitas kehidupan ini, tentu saja saya akan sangat kebingungan. Mengingat terlalu banyaknya hal yg dirasa perlu dibenahi dan dipelajari dalam menjalani kehidupan. Belum lagi, saya pun tentu ingin menuliskan passion saya juga di dalamnya.

Ya, terlalu banyak. Maka pada akhirnya, saya memutuskan untuk merangkumnya dalam satu kalimat: "ilmu untuk menjalani berbagai peran yang saya jalani di muka bumi ini dengan sebaik-baiknya".

4 peran saya yg paling utama: Yang pertama, tentu sebagai hamba Allah SWT. :) Kedua, sebagai seorang ibu dan seorang istri. Saat ini saya adalah ibu dari 2 anak (3 thn dan 1 thn), dan insyaAllah tahun depan akan menjadi ibu dari 3 anak. :) Kemudian, saya juga menjalani peran sebagai anak dan menantu (alhamdulillah ibu saya dan kedua mertua saya saat ini masih dlm keadaan sehat, sedangkan ayah saya sudah mendahului kami di tahun 2015 silam). Selanjutnya, peran saya saat ini adalah pemilik usaha jualan online pakaian dan perlengkapan anak.

Alasan terkuat saya ingin menekuni ilmu tersebut, yaitu karena sebagai manusia, saya merasa perlu terus memperbaiki dan meng-upgrade kualitas pribadi saya dalam menjalani peran-peran tersebut. Sebagai hamba Allah, saya merasa bekal saya di dunia ini masih teramat sangat sedikit sekali, sedangkan saya sendiri tau bahwa kematian dapat menghampiri kapan saja. Terkait peran lainnya, saya merasa perlu mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada pada diri saya, bahkan jika memungkinkan saya ingin sekali memiliki kemampuan untuk mentransformasi kelemahan-kelemahan tersebut menjadi kekuatan diri yang nantinya bisa saya manfaatkan. Disamping itu, saya ingin sekali "klien" saya (dalam hal ini: suami, anak-anak, ibu dan mertua, serta pembeli saya) merasa puas dan merasakan sebaik-baiknya presensi saya disaat mereka memerlukannya.

Saat ini, strategi menuntut ilmu yang saya rencanakan terkait ilmu 'menjalani peran' tersebut diatas adalah sebagai berikut:

1. Sebagai hamba Allah
Memilih lingkungan pergaulan yang baik, mengikuti kajian/pengajian/pendidikan informal terkait dalam hal meng-upgrade ilmu agama, berusaha mencari hidayahNya di setiap kesempatan.

2. Sebagai istri dan ibu
Mengikuti komunitas IBU PROFESIONAL, membaca lebih banyak buku tentang parenting dan keluarga, mengikuti seminar/kajian/pengajian yang memiliki kegiatan menggali ayat-ayat suci Al Quran dan hadist, yang khusus membahas tentang bagaimanakah cara menjadi istri dan ibu sholihah.

3. Sebagai anak dan menantu
Membaca buku terkait, membaca dan memahami dan mengulang kembali ayat-ayat Al Quran dan hadist terkait, berusaha memposisikan saya sebagai orang tua disaat saya memperlakukan orang tua (terkait bagaimanakah saya ingin diperlakukan oleh anak-anak saya nanti ketika saya sudah berusia lanjut).

4. Sebagai pemilik usaha
Membaca buku seputar teknik penjualan, mengikuti komunitas berjualan online, mengamati, memahami, dan mempraktikkan dengan modifikasi tertentu strategi-strategi penjualan online dari para online seller yang sudah lebih dulu sukses, bergaul dengan orang-orang yang lebih dulu sukses, membaca buku biografi orang-orang yang lebih dulu sukses dan mengadaptasi kiat-kiat suksesnya, mengikuti kelas/seminar motivasi.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu,
sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu
tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa
yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya. Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmuitu sendiri.

Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap yang perlu saya lakukan dalam proses mencari ilmu tersebut adalah:
1. Konsisten meluruskan niat dalam menuntut ilmu.
2. Bergegas, mengutamakan waktu menuntut ilmu, tidak menunda-nunda.
3. Berusaha selalu menumbuhkan sikap 'haus ilmu' dan menghindari sikap yang 'merasa sudah lebih tahu' dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.
4. Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajari dengan cara mengulang-ulang,
membuat catatan penting, dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
5. Tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan kecuali jika diberi kesempatan oleh guru tsb, tidak
memotong pembicaraan guru dan tidak berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara, serta penuh perhatian terhadap penjelasan atau perintah yang diberikan guru.
6. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

Demikian tulisan ini saya buat sebagai pengikat ilmu yang ingin saya amalkan, sekaligus sebagai salah satu alat pelurus niat dan pengingat kembali jika suatu saat nanti niat saya dalam mengamalkan ilmu teralihkan.

Salam,
Tia Yulantami
yulantami@gmail.com

Monday, January 5, 2015


THE BLOG

10 Common Mistakes Parents Today Make (Me Included)

When I became a mom, I got lots of advice on how to love my child. But not until a few years ago did someone actually point out that loving a child means wanting what's best for themlong-term.
When my four daughters were young,long-term didn't resonate with me. Back then it was about survival, meeting daily needs and keeping my head above water.
Now that my kids are maturing, however, the fog is lifting. I'm no longer a pledge of parenting, but rather an indoctrinated member. The perk of this stage is that my kids want to spend time with me. We have real conversations that reveal their beautiful personalities. With everyone sleeping through the night, I'm sleeping better, too. I can think coherently and be more intentional in how I raise them.
These days, I put more thought intolong-term. I think about the kind of adults I hope my children will be and work backward to ask, "What can I dotoday to foster that?" Being mindful of their future has changed my parenting paradigm, because what makes my children happy at age 10 or 15 is somewhat different from what will make them happy at age 25, 30, 40 and beyond.
A while back I came across some interesting articles and books that dig into what psychologists today are seeing: a rising number of 20-somethings who are depressed and don't know why. These young adults claim they had magical childhoods. Their parents are their best friends. They never experienced tragedy or anything more than normal disappointments. Yet for some reason, they're unhappy.
One reason given is that parents today are too quick to swoop in. We don't want our children to fall, so instead of letting them experience adversity, we clear the path. We remove obstacles to make their life easy. But adversity is a part of life, and only by facing it can our children build life-coping skills they'll need down the road. So while it seems like we're doing them a favor, we're really stunting their growth. We're putting short-term payoffs over long-term well-being.
2014-02-09-children2.jpg
One article mentions incoming college freshmen known to deans as "teacups" for their fragility in the face of minor problems. The question posed was this: "Could it be that by protecting our kids from unhappiness as children, we're depriving them of happiness as adults?"
Here's psychiatrist Paul Bohn's response, as paraphrased in the piece:
[M]any parents will do anything to avoid having their kids experience even mild discomfort, anxiety, or disappointment -- "anything less than pleasant," as he puts it -- with the result that when, as adults, they experience the normal frustrations of life, they think something must be terribly wrong.
Why am I sharing this information? Because I think it's relevant in this age of helicopter parenting. While I find it great that today's parents are more invested in their children's lives than previous generations, our involvement can go overboard. What we may justify as "good parenting" can hurt our children later. Unless we're mindful of that, it's easy to handicap them by making their lives too easy.
As my favorite parenting philosophy goes: "Prepare your child for the road, not the road for your child."
With this said, I've outlined 10 common mistakes that parents today -- me included -- often make. My intention isn't to point fingers, but to raise awareness. What may be ingrained in our culture is not always in the best interest of our kids.
Mistake #10: Worshipping our children. Many of us live in child-centered communities. We're raising our kids in child-centered homes. Our children love this, of course, because our lives revolve around them. And for the most part we don't mind either, because their happiness is our happiness. It thrills us to do for them, buy for them, and shower them with love and attention.
But I think it's important to keep in mind that our children were made to be loved, not worshipped. So when we treat them like the center of the universe, we create a false idol, turning a good into an ultimate. Rather than kid-centered homes, we should strive for God-centered homes. Our children will still be loved, only in a better way, one that promotes selflessness over selfishness.
Mistake #9: Believing our children are perfect. One thing I often hear from professionals who work with children (counselors, teachers, etc.) is that parents today don't want to hear anything negative about their kids. When concerns are raised, even concerns voiced out of love, the knee-jerk reaction is often to attack the messenger.
The truth can hurt, but when we listen with an open heart and mind we stand to benefit. We can intervene early before a situation gets out of hand. It's easier to deal with a troubled child than repair a broken adult.
As a Children's of Alabama psychiatrist recently told me when I interviewed her on teenage depression, early intervention is key because it can change the trajectory for the child's life. She said that's why she enjoys child and adolescent psychiatry -- because kids are resilient, and it's a lot easier to intervene effectively when they're young instead of years later, when the problem has gone on so long it's become incorporated into part of their identity.
Mistake #8: Living vicariously through our children. We parents take great pride in our children. When they succeed, it makes us happier than if we'd done it ourselves.
But if we're overly involved and invested in their lives, it gets hard to see where they end and we begin. When our children become extensions of us, we may see them as our second chance. Suddenly it's not about them, it's about us. This is where their happiness starts getting confused with our happiness.
Mistake #7: Wanting to be our child's BFF. When I asked a priest to name the biggest mistake he sees in parenting, he thought for a moment and then said, "Parents not being parents. Not stepping up to the plate to do hard things."
Like everyone, I want my children to love me. I want them to sing my praises and appreciate me. But if I'm doing my job right, they'll get mad and not like me sometimes. They'll roll their eyes, moan and groan, and wish they'd been born into another family.
Seeking to be our child's BFF can only lead to permissiveness and choices made out of desperation because we fear losing their approval. That's not love on our end; that's need.
Mistake #6: Engaging in competitive parenting. Every parent has a competitive streak. All it takes to stir this monster in us is another parent giving his or her child a leg up at our child's expense.
I hear these stories a lot at the junior high and high school levels, stories of broken friendships and betrayals due to one family blindsiding another family. In my opinion, the root is fear. We fear our children will get left behind. We fear that if we don't jump into the craziness, and pull out every stop to help them excel early, they'll be stuck in mediocrity the rest of their life.
I believe children need to work hard and understand that dreams don't come on a silver platter; they have to sweat and fight for them. But when we instill a "win at all costs" attitude, permitting them to throw anyone under the bus to get ahead, we lose sight of character.
Character may not seem important in adolescence, but in adulthood it's everything.
Mistake #5: Missing the wonder of childhood. The other day I found a Strawberry Shortcake sticker on my kitchen sink. It reminded me how blessed I am to share my home with little people.
2014-02-09-KariKampakisHuffPost.jpg
One day there won't be stickers on my sink. There won't be Barbies in my bathtub, baby dolls on my bed orMary Poppins in the DVD player. My windows will be clear of sticky handprints, and my home will be quiet because my daughters will be hanging out with friends instead of nesting at home with me.
Raising small children can be hard, monotonous work. At times it's so physically and emotionally exhausting we wish they were older to make our life easier. We're also kind of curious who they'll grow up to be. What will be their passion? Will their God-given gifts be clear? As parents we hope so, for knowing which strengths to nurture enables us to point them in the right direction.
But as we project into the future, wondering if our child's knack for art will make them a Picasso, or if their melodic voice will create a Taylor Swift, we may forget to soak up the splendor in front of us: toddlers in footed pajamas, bedtime stories, tummy tickles and elated squeals. We may forget to let our children be little and enjoy the one childhood they're given.
The pressures on kids start way too early. If we really want our kids to have a leg up, we need to protect them from these pressures. We need to let them have fun and grow at their own pace so 1) they can explore their interests without fear of failure and 2) they don't get burned out.
Childhood is a time for free play and discovery. When we rush children through it, we rob them of an innocent age they'll never pass through again.
Mistake #4: Raising the child we want, not the child we have. As parents we harbor dreams for our children. They start when we get pregnant, before the gender's even known. Secretly we hope they'll be like us, only smarter and more talented. We want to be their mentors, putting our life experiences to good use.
But the irony of parenting is that children turn our molds upside down. They come out wired in ways we never anticipated. Our job is to figure out their inherent, God-ordained bent and train them in that direction. Forcing our dreams on them won't work. Only when we see them for who they are can we impact their life powerfully.
Mistake #3: Forgetting our actions speak louder than words.Sometimes when my kids ask a question, they'll say, "Please answer in one sentence." They know me well, for I'm always trying to squeeze life lessons into teachable moments. I want to fill them with wisdom, but what I forget is how my example overshadows my words.
How I handle rejection and adversity... how I treat friends and strangers... whether I nag or build up their father... they notice these things. And the way I respond gives them permission to act the same.
If I want my children to be wonderful, I need to aim for wonderful, too. I need to be the person I hope they'll be.
Mistake #2: Judging other parents -- and their kids. No matter how much we disagree with someone's parenting style, it's not our place to judge. Nobody in this world is "all good" or "all bad"; we're all a mix of both, a community of sinners struggling with different demons.
Personally, I tend to cut other parents more slack when I'm going through hard spells. When my child is testing me, I'm compassionate to parents in the same boat. When my life is overwhelming, I'm forgiving of others who slip up and let things fall through the cracks.
We never know what someone's going through or when we'll need mercy ourselves. And while we can't control judgmental thoughts, we can cut them short by seeking to understand the person instead of jumping to conclusions.
Mistake #1: Underestimating CHARACTER. If there's one thing I hope to get right in my children, it's their CORE. Character, moral fiber, an inner compass... these things lay the foundation for a happy, healthy future. They matter more than any report card or trophy ever will.
None of us can force character on our kids, and at age 10 or 15 character won't mean much. Children care about short-term gratification, but we, as parents, know better. We know that what will matter at 25, 30 and 40 is not how far they once threw the football, or whether they made cheerleader, but how they treat others and what they think of themselves. If we want them to build character, confidence, strength and resilience, we need to let them face adversity and experience the pride that follows when they come out stronger on the other side.
It's hard to see our children fall, but sometimes we have to. Sometimes we have to ask ourselves whether intervening is in their best interest. There are a million ways to love a child, but in our quest to make them happy, let us stay mindful that sometimes it takes short-term pain to earn long-term gain.