Sunday, November 6, 2016

Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah

Peradaban

Peradaban sangat erat kaitannya dengan kebudayaan dan kecerdasan di setiap tahapan lingkungan. Saya setuju bahwa peradaban yang baik dibangun mulai dari dalam rumah. Untuk itu, perlu adanya sinkronisasi visi dan misi antara suami dan istri terlebih dahulu.

My Beloved Husband

Sudah beberapa bulan terakhir saya tidak merasakan jatuh cinta kembali kepada suami. Padahal, biasanya saat suami "hanya" membawakan cakwe sepulang kantor sekalipun, rasanya saya selalu berbunga-bunga. Beda dengan akhir-akhir ini, sekalipun suami pulang bawa pizza, saya biasa-biasa saja 🙈 (ini analoginya ketauan bgt ya kalo saya mudah dibahagiakan dengan makanan). Maka, disaat ada yang menuntun saya untuk membuat surat cinta untuk suami, saya merasa sangat excited. Segera, dengan segenap hati saya menuliskan surat itu, menuangkan semua kebaikan suami, mengingat-ingat apa saja potensi yang ada dalam dirinya yang membuat saya memutuskan dirinya sebagai pendamping hidup, serta kejadian apa saja yang sudah kami alami bersama. Suratnya sudah tentu hanya akan menjadi konsumsi suami saya tercinta. Namun saya akan membagi respon dari suami saya disini 😊

Saya mengirimkan surat tersebut via media elektronik. Sempat dibaca olehnya, namun suami saya tidak langsung membalasnya. Setelah saya tagih, kemudian beliau memberikan respon. Begini katanya: 😍😆

"With that ring, I gave you my heart. I promised from that day forward, you would never walk alone. My heart would be your shelter, and my arms would be your home."

"A happy marriage is about 3 things: memories of togetherness, forgiveness of mistakes, and a promise to never give up on each other. Even I dont say it, I always meant it."

Huwaaaa.... kemudian saya cireumbay alias berurai air mata. Esoknya? Kami lebih mesra dong pastinya.. 😳

Tentang Buah Hati Kami

Alhamdulillah saat ini saya telah dikaruniai 2 orang anak yang hebat. Fathir (3 thn) dan Sasya (1 thn). Keduanya adalah sosok anak yang ceria, aktif, menyenangkan, dan menggembirakan. 😇

Fathir
Terlahir sebagai anak pertama, laki-laki, kesayangan kedua kakek dan neneknya. Di usianya yang masih balita, Fathir sudah sangat pandai berbicara dan bercerita. Beberapa teman saya menyebutnya sebagai calon orator. Hehehe... selain itu, Fathir adalah anak yang baik hati, suka berbagi, juga mudah memaafkan. Fathir, bocah lucu yang suka ngoceh kocak. Adaaaaa saja celotehnya setiap hari yang membuat mamanya tertawa, rasanya ocehannya yang kocak itu bagai oase ditengah-tengah rutinitas saya yang kadang menjemukan. Di sisi lain, Fathir sangat mudah menghafal jalan. Dia hafal "Mah, ini tempat cuci mobil ya", atau "Mah, itu jalan ke rumah tante X ya..", atau "Mah, jangan lewat situ, jalanannya jelek mah". 😊 Alhamdulillah, Allah telah menitipkan anak yang luar biasa ini kepada saya. Doa mama selalu buat kamu ya, mas Fathir...

Sasya
Si imut yang lembut dan cerdas. Sasya pernah mengalami masalah, berat badannya sempat stuck, tidak naik selama beberapa bulan. Tidak jarang saya terima komentar "Wah, 1 thn kok kurus ya", atau "Hah, kecil amat, padahal udah 1 thn ya". Hehehe... saya senyum saja 😊 karena alhamdulillah hasil konsul DSA, berat badannya masih on track, dan saya juga tau, di sisi lain, anak saya adalah anak yang hebat. Saya sering dibuat kagum dengan perkembangannya. Sebelum usia 1 thn, Sasya sudah pintar mengacungkan telunjuknya, berjoget, tepuk tangan, melambaikan tangan, dll. Daya tangkapnya luar biasa, membuat saya harus selalu waspada dengan perilaku saya (kalau yang aneh-aneh, takutnya ditiru. Hehehe). Alhamdulillah, segala puji bagiNya yang telah menghadirkan Sasya ditengah keluarga kami.

Tentang Saya

Salah satu potensi dalam diri saya, bahkan sejak saya kecil, yaitu selalu suka sama ruangan yang rapi, alias suka beberes. Hehehe... dengan beberes, rumah jadi nyaman. Dengan beberes, beban hidup rasanya hilang. Dengan beberes, hati jadi riang. Dengan beberes, suami pun senang. 😁😁😁 begitulah, Allah menakdirkan saya berjodoh dengan suami saya, yang hmmmm... pokoknya intinya dia ga suka beberes deh. Hari pertama saya diajak ke kontrakan rumah kami pasca menikah, OMG, wuacak wuacakaaaaan 😭😭 butuh 2 minggu bagi saya buat menata kontrakan kami itu menjadi rumah yang homey. Alhamdulillah setelah tau saya suka beberes, suami makin cinta. Klop deh kita. Yang satu ga suka beberes, yg satu hobi beberes. 😄 setelah saya punya anak, saya pun berusaha menularkan dan mengajarkan kebiasaan beberes itu kepada anak-anak saya. Butuh effort memang mangajarkan beberes pada anak balita. Hehehe... (if you know what I mean). Tapi saya yakin, hasilnya akan terlihat setelah mereka dewasa nanti.

Potensi lain dari diri saya terkait rumah tangga kami, yaitu rumah yang selalu ceria. Saya suka bercanda dengan suami saya. Kadang kami membutuhkan candaan (yg tepat) untuk membuat pikiran kami tetap jernih saat menghadapi beberapa situasi sulit. Suami saya dulunya seringkali tidak kepikiran untuk menyelipakan candaan di sela-sela keseharian kami. Sejak menikah, saya pun mulai "membiasakan"nya. Alhamdulillah, dengan demikian, stress lebih bisa dihindari. 😁

Potensi diri saya yang lain, adalah kesuksesan secara finansial (aamiin). Saya sengaja menuliskan ini sebagai cambuk bagi saya untuk terus mengembangkan bisnis kecil-kecilan saya. Harapannya nanti bisnis ini akan membawa manfaat bagi keluarga kami khususnya, dan bagi ummat secara umum. Alhamdulillah saya mendapat dukungan 100% dari suami. Perlahan tapi pasti, dengan tetap menghandle dan tidak mengesampingkan kebutuhan anak dan keluarga, saya berharap cita-cita ini dapat konsisten dijalankan dan berpotensi untuk terwujud.

Selain hal-hal di atas, kekuatan potensi saya yang lain terkait rumah tangga kami adalah InsyaAllah akan bisa menciptakan kondisi rumah tangga yang bahagia dan damai. Hal ini sejalan dengan komitmen saya dan suami (dan nantinya akan kami tanamkan pula pada anak-anak kami), yaitu "jika tidak membawa kebaikan, keberkahan, dan kebahagiaan bagi keluarga, maka tinggalkan". Semoga kami selalu bisa konsisten menjalaninya.

Tantangan Di Lingkungan

Saya tinggal di sebuah komplek yang bisa dibilang cukup rapat. Media sosial tradisional kami diantaranya adalah saat berbelanja di tukang sayur dan arisan RT. Tantangan yang saya rasakan saat ini adalah:
- adanya ketidaksepahaman antara saya dan beberapa tetangga terkait cara mendidik anak.
- ghibah yang tidak terhindarkan saat berinteraksi dalam media sosial tradisional yang saya sebut di atas.
- sulitnya membendung rasa terlalu ingin tau urusan orang lain di kalangan para tetangga.
- tidak adanya komunitas keagamaan (misal pengajian) di lingkungan tempat tinggal saya.

Mungkin, maksud Allah menghadirkan saya di lingkungan seperti ini adalah agar saya dapat lebih kuat, tegar, dan konsisten menjaga keluarga saya dari pengaruh negatif lingkungan tersebut di atas. Pada akhirnya, saya mencari keluar lingkungan tempat tinggal saya, beberapa komunitas produktif yang saya butuhkan. Alhamdulillah, setelah mengikuti beberapa komunitas tersebut, saya merasa hidup saya lebih baik, bermanfaat, dan bermakna.

Penutup

Saya yakin, keluarga kecil kami suatu saat nanti akan mendapat tempat yang baik di hati masyarakat dan insyaAllah akan berkontribusi baik dalam membangun peradaban lingkungan. Saat ini yang perlu saya dan suami butuhkan adalah memanfaatkan potensi-potensi baik dan menuangkannya ke dalam cita-cita mulia kami, yang harapannya nanti dapat diwujudkan dalam jangka waktu yang kami inginkan. Semoga Allah selalu bersama kami di setiap langkah, senantiasa memberi kami hidayah dan bimbingan. Aamiin...